Translate

Rabu, 30 Mei 2012

SHOLAT JAMAK DAN QOSHOR


FIQIH SAFAR
(Ketentuan syari’at yang harus dilakukan dalam perjalanan)

A.   Pendahuluan
Bepergian merupakan aktifitas yang sering dilakukan oleh seseorang baik umat muslim maupun non muslim. Bagi umat Islam yang sadar akan keberadaannya sebagai hamba Allah yang bertaqwa, ia mempunyai kewajiban-kawajiban yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun yaitu sholat. Namun demikian Allah telah memberikan keringanan (ruh-shoh) bagi umat Islam yang sedang berada dalam keadaan bepergian.
Bepergian atau safar yang memperoleh rukhshoh adalah bepergian yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Adanya keringanan ini merupakan kemudahan yang telah diberikan Allah bagi hamba-hambaNya, sebagaimana kemudahan atau keringanan yang dapat ditemukan ketika seorang hamba dalam kondisi darurat, contoh : dibolehkannya menjama’ dan mengqoshor sholat bagi orang yang bepergian, dibolehkkannya makan daging yang diharamkan ketika berada dalam hutan sedang ia dalam keadaan sangat lapar dan tidak ada makanan yang lain selain daging babi hutan, diperbolehkannya tidak puasa ramadhan bagi orang yang sakit, dan masih banyak rukhshoh yang lain dan tentunya rukhshoh itu dapat diambil jika telah memenuhi syarat-syarat tertentu.
B.    Batas-batar safar
Batas-batas safar (bepergian) yang dimaksudkan di sini adalah batas seseorang dalam bepergian dan memperoleh rukhshoh (keringanan) dalam melaksanakan sholat fardhu dengan jama’ atau qoshor. Adanya batas ini diperlukan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosululloh Muhammad saw., yangmana beliau melaksanakan sholat fardhu dengan dijama’ atau diqoshor apabila telah mencapai batas tertentu.
1.       Batas awal safar
Batas awal safar (bepergian) adalah suatu batas dimana jika seseorang telah melalui batas ini maka seseorang tersebut dinamakan musafir dan perbolehkan melakukan sholat jama’ atau qoshor apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu .
Batas awal ini berbeda disesuaikan dengan kondisi/keadaan pemukiman yang ditempati oleh orang yang akan melakukan perjalanan. Keadaan pemukiman tersebut antara lain :
Ø  Orang yang tinggal di daerah yang padat bangunan (baik pedesaan atau perkotaan), apabila tempat tersebut memiliki batas baik berbentuk tugu atau yang lain maka batas safarnya adalah dengan melalui batas tempat tersebut.
Namun apabila tempat tersebut tidak memiliki batas sama sekali, maka batas awal safarnya adalah dengan melalui akhir bangunan yang dinisbatkan pada tempat tersebut
Ø  Bagi orang yang bertempat tinggal di suatu daerah yang tidak terdapt rumah atu bangunan, seperti di hutan belantara atu padang pasir, maka awal safarnya ialah dengan meninggalkan tempat dimana dia diam menurut ‘urf nya (kebiasaan yang berlaku).

2.       Batas akhir safar (perjalanan)
Batas akhir safar adalah suatu batas dimana seseorang yang bepergian sudah tidak dikatakan musafir lagi, sehingga tidak diperbolehkan melaksanakan jama’ dan qoshor. Sebab masa perjalanannya dianggap telah habis.
musafir telah sampai batas tempat tinggalnya walaupun hanya sekedar lewat atau tidak memasukinya”
Contoh : Pak As’ad adalah orang yang berdomisili di desa Pakis Malang Jawa Timur. Pada suatu hari ia ingin bepergian ke Surabaya dengan maksud (niat) bermukim di Ampel dengan tanpa menentukan waktu atau hari.
                  Dalam contoh ini, setelah Pak As’ad sampai di batas desa Ampel, maka perjalanannya dianggap berakhir dan tidak boleh melakukan jama’ dan qoshor. Karena dengan memasuki batas desa Ampel, berarti dia sudah tidak dikatakan musafir lagi.
                  Lain halnya apabila Pak As’ad tidak ada maksud untuk bermukim di tempat yang dituju. Jika demikian, maka apabila ia sampai di tempat yang dituju, dia boleh melakukan jama’ dan qoshor selama 4 hari 4 malam utuh (hari berangkat dan pulang tidak dihitung), selebihnya tidak boleh kecuali sedang menunggu hajat yang sewaktu-waktu bisa terselesaikan namun tidak diketahui kapan selesainya, dan apabila hajatnya selesai ia akan kembali. Hal sedemikian memperbolehkan musafir untuk melakukan jama’ dan qoshor selama 18 hari.
                  Lain halnya apabila seorang yang melakukan perjalanan dengan maksud mukim di suatu tempat melebihi 4 hari 4 malam atau lebih.
Contoh : seorang santri dari Malang ia mondok (belajar di pesantren Gresik). Setelah ia pulang ia akan kembali ke Pesantren, sehingga sudah dipastikan ia akan mukim di Pesantren, maka ia tidak diperbolehkan jama’ dan qoshor. Kecuali apabila ia tidak menetap/mukim di Desa tersebut kurang dari 4 hari, maka ia diperbolohkan melakukan jama’ dan qoshor

Untuk syarat dan ketentuan dibolehkannya jama’ dan qoshor insyaallah akan saya sambung pada postingan berikutnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar