Translate

Jumat, 22 Juni 2012

Metode Pembelajaran


a.     Metode Parabel
Kata parebel berasal dari bahasa Yunani kuno “parabole”yang berarti “menaruh di sebelah” atau “membandingkan”. Dengan demikian parable dapat diartikan sebagai suatu ceritat sederhana dimana sesuatu yang abstrak dapat dijelaskan berdasarkan hal yang mudah diketahui untuk menyajikan kebenaran moral atau kebenaran teoritik.
Dalam metode parabel guru menyiapkan pikiran murid agar mereka dapat menangkap arti konsep-konsep yang belum dikenalnya dengan menarik suatu analogi dari suatu pengetahuan yang sudah dikenalnya.
Metode parable dapat berlangsung melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a)    Menyatakan suatu analogi tentang konsep yang belum dikenal murid. “ mengajar ibaratnya berkebun””, yaitu memelihara dan melindungj.
b)    Deskripsi detail. Guru kemudian menyatakan sejumlah ciri yang sudah dikenal murid. Misalnya dalam berkebun, orang harus mengambil daun yang sudah tua, mencabut rumput yang mengganggu pertumbuhan tanaman, dan sebagainya.
c)    Kesimpulan kemudian harus ditarik menjelang analogi berakhir
  1. Metode Skolastik
Metode skolastik berasal dari St. Thomas Aquino. Dalam metode ini guru harus suka berpikir dan menantang muridnya melakukan hal yang sama. Guru bukan saja harus mengemukakan semua alas an yang mendukung konsep yang ingin diajarkannya, melainkan ia harus juga berusaha menemukan dan memecahkan segala keberatan yang mungkin bisa diajukan. Ia juga harus menyajika pandangan yang berbeda ini secara mendalam dan adil. Metode ini terdiri dari 5 langkah :
a)    Questro                      ; pertanyaan pembuka yang dikemukakan oleh guru
b)    Videtur                       ; penyajian mengenai keberatan utama bagi jawaban negative terhadap pertanyaan tersebut
c)    E Contra                    ; pernyataan mengenai hal yang berlawanan dengan argumentasi yang dikemukakan
d)    Respodio                   ; pembuktian guru terhdap pendapat “E Contra”
e)    Ad Primam                ; penolakan butir demi butir terhadap semua keberatan yang telah dikemukakan sebelumnya.


  1. Metode Jesuit
Repetitio est mater studiorum (ulangan adalah induk dari segala studi) sering dikutip sebagai salah satu prinsip dasar pendidikan Jesuit. Ulangan merupakan unsur yang paling fital dalam belajar. Melalui pengulangan, murid dapat memusatkan perhatian dan menangkap inti paling penting dalam pengajaran yang disajikan. Banyak aspek yang kelewatan dalam suatu bacaan atau kuliah dapat dikuasai melalui pengulangan. Dalam metode ini murid bukan saja harus mengulang, melainkan juga harus mendengarkan, mengikhtisarkan, menerapkan dan mendiskusikan selama pengajaran berlangsung.
                 Berikut ini beberapa hal yang merupakan bagian-bagian khusus yang dianggap penting bagi penggunaannya secara efektif.
a)    Kuliah merupakan sense qua non prosedur Jesuit. Tahap permulaan pengajaran mulai dengan pendahuluan suatu karangan (passage) yang dipilih oleh guru. Setelah menyajikan pendahuluan tersebut, guru menganalisis bahan tersebut menurut cara berikut :
·         Membaca : karangan secara keseluruhan dibaca lagi secara lebih lambat agar murid dapat membuat catatan
·         Menerjemahkan : guru pelen-pelan menjelaskan arti karangan tersebut dengan menggunkan bahasa yang dikenal oleh murid.
·         Menganalisis : karangan tersebut dibaca kalimat demi kalimat, kata demi kata.guru secara hati-hati memilah isi karangan ditinjau dari konstruksi taat bahasa dan retorikanya.
·         Menghubungkan : isi karangan dihubungkan dengan sejarah, geografis atau dengan disiplin yang berhubungan : guru menghubungkan bahan baru dengan pengalaman yang lalu.
·         Pemberian tugas : murid diinstruksikan untuk mengingat-ingat dan melukiskan secara kreatif isi kuliah itu
b)    Pengulangan merupakan kelanjutan kuliah dan biasanya terjadi pada hari berikutnya. Phase ini terdiri dari tiga kegiatan.
·         Menghapalkan : isi karangan dihapalkan baris demi baris
·         Concertatio : diskusi atau perdebatan mengenai isi  karangan oleh murid
·         Perlombaan : murid yang terbaik dalam memahami isi karangan diberi hadiah.

  1. Metode Vincensitus

Metode ini berasal dari st.vincensitus de paul,yang juga dikenal dengan “petiti methode” ,metode kecil . Dalam usaha untuk memahami suatu secara mendalam tiga langkah yang berbeda harus diikuti :
a.    Hakikat        : Guru melukiskan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami   oleh murid,hakikatnya dan ciri pokok pembicaraan.
b.    Motif             : Pada bagian ini guru melukiskan alasan mengapa suatu topik  harus dipelajari atau dipraktekkan.
c.    Cara             : Ini merupakan bagian terakhir dari pelajaran yang menyatakan  bagaimana suatu topik harus dipelajari atau dipraktekkan

  1. Sistem Monitoring   
                 Yang dimaksud monitor disini adalah anak-anak  yang lebih tuadi beri tanggung jawab tertentu untuk mengajar beberapa kawannya yang lebih muda joseph lancster(1778-1838)membuka sekolah yang menggunakan system ini di inggris.Raja George lll menggunakan system ini sebagai usaha perbaharuan untuk memungkinkan masa rakyat dapat mengenyam pendidikan.sistem ini juga di cobakan di solo dengan nama projek pamong. System monitoring juga banyak di gunakan dalam pembelajaran Alquran (ngaji ) di musholla/langgar.

  1.  Metode Herbart

Pada dasarnya  metode herbart bersumber pada teori belajar yang berlandaskan pada ilmu jiwa asosiasi. Menurut teori ini murid lebih banyak dari pada sekedar mengamati suatu benda,ia juga mengapresikannya.mengapresikan berarti bahwa seorang murid bukan saja memiliki konsep mengenai suatu objek tertentu,melainkan juga memiliki konsep tersebut dalam hubungannya dengan konsep lain yang sudah tersimpan dalam ingatannya .
            Metode herbart dapat di praktekkan melalui lima langkah :
a.      Persiapan yang membangkitkan ingatan murid tentang hal-hal yang sudah diketahui
b.      Presentasi  yaitu menyajikan bahan pengajaran secara kongrit.
c.   Asosiasi,kadang-kadang juga dinamakan komparasi atau abstraksi yang mungkin merupakan langkah terpenting . pada langkah ini guru membimbing murid melalui analisis dan perbandingan untuk membedakan antara hal-hal yang bersamaan  dengan hal-hal yang berbeda.
d.  Generalisasi,sesudah contoh-contoh spesifik dibandingkan dan unsure-unsur yang sama diabstraksikan, atura- aturan atau prinsip umum di bentuk.
e.  Aplikasi.pada tahap terakhir ini guru meminta kepada murid untuk mengaplikasi prinsip-prinsip umum tersebut.

  1. Metode Pemecahan Masalah  
           
Metode ini berasal dari John Dewey, maksud utama metode ini adalah memberikan latihan kepada murid dalam berpikir.Metode ini dapat menghindarkan untuk membuat kesimpulan tergesa-gesa, menimbang-nimbang berbagai kemungkinan pemecahan dan menagguhkan pengambilan keputusan sampai terdapat bukti-bukti yang cukup .
Metode pemecahan masalah dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Pengenalan kesulitan (masalah)
  2. Pendevisinian masalah,
  3. Saran-saran mengenai berbagai kemungkinan pemecahan,
  4. Pengujian hipotesis
  5. Memverivikasi kesimpulan.

  1. Metode proyek

Metode proyek berasal dari wiliam heart kilpatrik yang menekankan belajar melalui mengerjakan (learning by doing).metode ini terdiri dari 4 langkah,yaitu :
a.    Esplorasi       : Mengetes murid tentang hal yang sudah si ketahuinya mengenai unit itu.
b.    Presentasi     : Ceramah dengan maksud untuk memberikan pandangan mengenai unit itu
c.    Asimilasi       : Presentasi yang di sesuaikan dengan kemampuan murid
d.    Organisasi    : Murid mengorganisasikan hal yang di pelajari kedalam bentuk yang logis.
e.    Resitasi         : Murid menyajikan hasil pekerjaan secara lisan atau tertulis.

  1. Metode Montessori

Pada dasarnya,metode mentessori bertitik berat pada usaha pemanfaatan kecenderungan serta kesanggupan alamiah murid dengan jalan menyediakan lingkungan yang menantang serta benda obyekindra yang bertujuan.dengan ini anak-anak di taman kanak-kanak dihadapkan pada berbagai jenis bahan pengjaran seperti : manik-manik,teka-teki,batang-batang kayu,huruf-huruf dan angka-angka yang berwarna cerah dalam bentuk yang mudah di pegang.murd bebas untuk memilih setiap benda yang diinginkannya selama ia tidak mengambilnya lebih dari sekali.guru kemudian menjelaskan apa yang perlu dilakukannya dengan benda itu(membangun,merasakan,mengatur kembali,mengarsir)sehingga dengan demikian anak dapat memahami prinsip atau ketrampilan yang dirancang untuk benda tersebut.

Beberapa prinsip yang melandasi metode mentessori adalah sebagai berikut :

a)    Prinsip Kemerdekaan.Anak bebas untuk menentukan apa yang ingin dipelajarinya. Pendidikannya hanya akan dapat memberikan kondisi yang menguntungkan.
b)    Prinsip Disiplin. Mainan yang boleh dipilih adalah mainan yang belum dipakai oleh orang lain. Memakai permainan tersebut haruslah benar.
c)    Prinsip Ketidaktergantungan.anak harus belajar melalui permainan yang di pilihnya, sebisa-bisanya,dengan bantuan yang minimal dari pihak guru.
d)    Prinsip penghargaan kepada penguasa dan mengikuti perintah secara intelegen.
Montessori mengamati anak-anak biasanya berkembang melalui 3 langkah : pada tahap pertama ia sangat sulit uantuk memahami, pada tahap ke 2 timbul keinginan untuk menurut perintah pada saat ketrampilan motorik untuk melakukan sesuatu telah berkembang,tahap ke3 anak dapat mereaksi dengan segera.
e)    Prinsip tentang sedikit pujian dan hukuman.karena segala sesuatu berjalan secara  wajar dan alamiah sedikit diperlukan,pujian dan hukuman.anak dididik untuk memperoleh kepuasan alamiah,bukan kepuasan yang bersumber pada orang lain.

  1. Metode Studi Kasus
           
                 Metode studi kasus pertama tama digunakan dalam bidang lain termasuk dalam bidang hukum yang kemudian dikembangkan pada bidang-lain termasuk bidang pendidikan .metode studi kasus bukan saja memberikan pengalaman dalam pengambilan keputusan,akan tetapi juga merangsang konseptualisasi yang didasarkan pada kasus individu .metode kasus juga dapat merangsang diskusi dan interaksi dalam kelompok .

            metode studi kasus dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

a)    Pemilihan kasus.Kasus yang dipilih harus representative dalam pemecahan suatu masalah sehingga banyak hal yang di pelajari dari padanya.
b)    Membaca.setiap murid perlu membaca  semua catatan mengenai kasus tersebut secara mendalam.
c)     Analisis.selama atau sesudah membaca tiap murid disarankan untuk menganalisis kasus tiu tahap demi tahap.
d)    Dikusi.setelah penilaian kasus secara individual selesai,maka tiba saatnya bagi semua murid dikelas mempertukarkan kesimpulan dan pertimbangannya secara lisan mengenai kasus tersebut.
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar